Rujak Soto Banyuwangi: Asal-Usul Kuliner Unik dari Ujung Timur Jawa

Mungkin terdengar agak aneh dan tidak masuk akal, tapi rujak soto merupakan salah satu kuliner khas Banyuwangi, Jawa Timur, perpaduan rasa dan cara penyajian yang cukup unik. Makanan ini menggabungkan rujak sayur berbumbu petis dengan kuah soto, biasanya soto babat.

Perpaduan tersebut menghasilkan rasa gurih, pedas, manis, dan segar dalam satu hidangan. Keunikan rujak soto membuatnya menjadi salah satu makanan yang pada Maret 2025, rujak soto telah mendapatkan pencatatan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Pengetahuan Tradisional yang berasal dari Banyuwangi.

Rujak soto pada dasarnya terdiri dari dua hidangan yang disatukan. Pertama,  rujak khas Banyuwangi, yang berisi sayuran seperti kangkung dan tauge, serta dapat dilengkapi lontong, tahu, dan tempe.Bumbu rujaknya dibuat dari kacang tanah, gula merah, cabai, garam, petis, dan pisang klutuk. Penggunaan pisang klutuk memberikan rasa khas yang sedikit sepat pada bumbu rujak.  Setelah rujak selesai diulek dan dicampur, hidangan tersebut kemudian disiram dengan kuah soto panas. Soto yang digunakan umumnya memiliki isian babat atau jeroan sapi. Inilah yang membedakannya dari rujak biasa.

Asal-Usul Rujak Soto

Tidak ada satu catatan sejarah yang secara pasti menjelaskan siapa pencipta pertama rujak soto dan pada tahun berapa tepatnya makanan tersebut dibuat. Sejumlah sumber justru menyebut sejarah awalnya masih belum sepenuhnya terdokumentasikan.

Keterangan yang sering digunakan untuk merujuk sejarah rujak soto berasal dari budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan. Menurutnya, pada era 1970-an terdapat lagu Banyuwangi berjudul “Rujak Singgul” yang menyebut berbagai jenis rujak yang dikenal masyarakat saat itu, seperti rujak wuni, rujak locok, rujak lethok, rujak kecut, dan rujak cemplung. Rujak soto belum disebutkan dalam lagu tersebut. 

Rujak soto diperkirakan muncul setelah era 1970-an sebagai hasil kreativitas masyarakat dalam menggabungkan makanan yang sudah mereka kenal. Namun, sumber lain menyebut kemunculannya pada kisaran 1980-an, hingga tahun pasti kelahirannya masih belum dapat dipastikan. Karena itu, lebih aman menyebut bahwa rujak soto berkembang di Banyuwangi pada paruh akhir abad ke-20, tanpa menetapkan satu tahun sebagai tahun penciptaannya.

Perpaduan Rujak dan Soto

Kekhasan rujak soto terletak pada perpaduan dua jenis makanan yang sebenarnya sudah populer secara terpisah. Rujak memberikan rasa pedas, manis, gurih, dan sedikit asam atau sepat dari bahan-bahan seperti petis dan pisang klutuk. Sementara itu, kuah soto memberikan rasa gurih, hangat, dan aroma rempah.

Bahan yang Menjadi Ciri Khas

Beberapa bahan utama umum ditemukan dalam rujak soto antara lain:

  • Lontong
  • Kangkung
  • Tauge
  • Mentimun
  • Kacang panjang
  • Tahu dan tempe goreng
  • Telur
  • Daging atau babat sapi
  • Kacang tanah
  • Petis
  • Gula merah
  • Cabai
  • Pisang klutuk muda

Keberadaan rujak soto memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat berkembang melalui kreativitas masyarakat. Dua hidangan yang awalnya terpisah kemudian dipadukan menjadi sajian baru dengan karakter tersendiri.

Keunikan tersebut juga memperlihatkan kekayaan kuliner Banyuwangi, khususnya tradisi masyarakat yang dikenal dengan budaya Osing. Rujak soto kemudian diwariskan dan berkembang melalui keluarga, penjual makanan, serta warung-warung yang mempertahankan cara penyajiannya.

sejarah pencipta pertama dan tahun kemunculannya belum memiliki catatan tunggal yang pasti, berbagai sumber mengaitkan perkembangannya dengan kreativitas masyarakat Banyuwangi setelah era 1970-an. Bumbu rujak berbahan petis dan pisang klutuk, sayuran, serta kuah soto yang gurih dan hangat, rujak soto memiliki karakter yang berbeda dari kuliner daerah lainnya. #5/35

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *