
Bubur Manado, atau yang dikenal masyarakat lokal sebagai Tinutuan, adalah kuliner khas Sulawesi Utara yang kaya akan gizi, warna, dan cita rasa segar. Tidak ada yang ribet, bahan-bahannya relatif mudah dan tersedia melimpah.
Bahan dasar bubur adalah beras, air, daun salam, dan serai untuk memberikan aroma harum. Untuk isian sayuran yang khas adalah labu kuning atau orang Manado menyebutnya meda, singkong, jagung manis pipil, bayam, kangkung, dan daun kemangi. Kangkung dan bayam ditambahkanuntuk memberikan tekstur renyah dan warna hijau segar. Yang paling khas adalah daun gedi, sayuran khas Sulawesi Utara yang berfungsi memberikan rasa gurih alami serta mengentalkan kuah bubur.
Seperti bubur beras pada umumnya, proses pembuatan bubur manado adalah rebus beras bersama air, daun salam, dan serai hingga beras mulai lembut dan menjadi bubur encer. Setelah bubur lembut, masukkan bahan keras. Masukkan potongan labu kuning, singkong, dan jagung manis. Masak hingga labu dan singkong empuk, lalu hancurkan sebagian labu kuning agar kuah bubur berwarna kuning keemasan yang khas.

Langkah berikutnya adalah menambahkan sayuran hijau. Masukkan daun gedi, kangkung, dan bayam secara bertahap. Aduk perlahan hingga sayuran layu tetapi tetap berwarna segar. Sebagai sentuhan akhir, masukkan daun kemangi, garam dan penyedap rasa untuk menyempurnakan aroma dan rasa gurih alami.
Penyajian
Tinutuan disajikan selagi hangat dalam mangkuk. Kuliner ini identik dengan berbagai hidangan pendamping yang melengkapi tekstur dan rasanya. Lauk pendamping yang umum adalah dengan menambahkan ikan asin goreng renyah, cakalang fufu atau ikan cakalang asap, atau perkedel jagung.
Sementara untuk pelengkap tidak boleh ketinggalan adalah sambal roa atau sambal terasi segar dengan perasan jeruk nipis untuk memberikan sensasi pedas dan asam yang menggugah selera. #4/39

