Yang Sudah Langka, Berburu Semanggi di Jalanan Surabaya

Seperti namanya, makanan khas Surabaya ini memang berbahan daun semanggi, tanaman air yang banyak ditemui di persawahan. Untuk menjadikannya sajian kuliner nikmat, hanya cukup direbus, dicampur kecambah yang juga direbus, dan siraman bumbu.

Bumbunya berupa olahan ubi rambat yang ditumbuk halus dan dicampur kacang tanah. Disantap dengan kerupuk puli atau kerupuk beras, rasanya nikmat, membuat siapapun yang pernah menyantapnya, kangen menikmatinya lagi.  

Sekilas penyajian semanggi mirip pecel, disajikan dengan piring dari daun pisang atau yang biasa disebut pincuk. Bila ingin pedas, pada bumbu bisa ditambahkan sambal sesuai selera.

“Tergantung selera pembeli, kadang ada pula yang minta ditambahi petis,” kata Mbok Bathi, penjual semanggi yang ditemui Makanabiz di Jalan Pacar Kembang, Surabaya.

Selain nikmat, banyak manfaat yang bisa didapat dari menyantap makanan khas Surabaya ini. Beberapa penelitian menemukan bahwa semanggi mengandung zat yang dapat membantu mencegah terjadinya osteoporosis pada perempuan pascamenopause.

“Bisa memperkuat tulang lho, Mas, agar tidak cepat keropos,” kata Bu Marni, penjual semanggi yang lain.

Mbok Bathi, Bu Marni, dan beberapa penjual semanggi lain menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter. Mereka menyusuri pertokoan, kampung, juga perumahan-perumahan elit di Surabaya.

Di punggung, gendongan yang beratnya tak kurang dari 20 kilogram, menemani perjalanan mereka.  Persis seperti penggalan syair lagu keroncong ‘Semanggi Suroboyo’ karya S. Padimin berikut ini.

“..harganya sangat murah, sayur semanggi suroboyo didukung serta dijual, masuk kampung, keluar kampung bung..”

Sekitar pukul 10 pagi, mereka berangkat dan baru pulang seiring terbenamnya matahari. Bila nasib sedang bagus, sekitar 50 pincuk semanggi yang ada di gendongan, bisa habis semua. Sepincuk pecel semanggi plus kerupuk mereka jual dengan harga Rp. 10 ribu.

Kebanyakan penjual semanggi gendong berasal dari daerah Benowo, Surabaya Barat. Dengan menggunakan angkutan umum, para ibu perkasa turun di dekat halte bis Kupang. Kemudian berpencar sesuai ‘wilayah operasi’ masing-masing.

Bila susah menemukan penjual semanggi gendong, bisa juga menyantapnya di beberapa resto di Surabaya. Tentu dengan harga yang jauh lebih mahal, dua hingga tiga kali lipat dibanding semanggi gendong. Namun keeksotikan menikmati makanan tradisional ini tentu lebih terasa bila menemukan yang gendongan. Apalagi, makanan yang sebenarnya menjadi ikon Surabaya ini, mulai susah ditemukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *