Asal Usul dan Sejarah Es Batu: Dari Barang Mewah Jadi Kebutuhan F&B

Kalau hari ini kita bisa bikin es teh, es jeruk, atau es kopi susu dalam 5 menit, dulu es batu itu adalah barang super mewah. Perjalanannya panjang banget. Ribuan tahun lalu, orang sudah pakai salju dan es alami dari gunung untuk mendinginkan minuman. Di Tiongkok, Persia, dan Kekaisaran Romawi, es disimpan di dalam ice house bawah tanah yang dilapisi jerami untuk dipakai di musim panas. Hanya raja dan bangsawan yang bisa menikmatinya.

Sejarah es batu modern tidak bisa lepas dari satu nama Frederic Tudor dari Boston, Amerika Serikat. Pada 1806, di usia 23 tahun, Tudor punya ide gila, memanen es dari danau beku di New England, lalu mengirimnya ke daerah tropis seperti Karibia. Awalnya ditertawakan dan sempat bangkrut sampai masuk penjara hutang, tapi dia berhasil. Dia mengembangkan cara insulasi pakai serbuk gergaji, membuat gudang es yang efisien, dan membangun rantai pasok global. Karena itu dia dijuluki “Ice King of the World”. Bisnisnya booming — es dikirim dari Boston ke seluruh dunia, termasuk ke Batavia.

Mengandalkan alam itu riskan. Baru pada sekitar 1844-1850, Dr. John Gorrie dan kemudian Ferdinand Carré menciptakan mesin refrigerasi buatan. Sejak itu manusia bisa bikin es kapan saja tanpa menunggu musim dingin.

Es batu pertama kali masuk ke Indonesia pada 1846 dan langsung bikin heboh. Tepatnya 18 November 1846, surat kabar Javasche Courant memberitakan bahwa sehari sebelumnya, tanggal 17 November 1846, sebuah kapal besar dari Boston, Amerika Serikat, membawa es yang dipesan oleh Roselie en Co.

Menjadi kehebohan karena orang-orang menyebutnya “batu-batu putih sejernih kristal” yang kalau dipegang bikin tangan kaku. Bea Cukai bingung karena belum ada aturan impor es batu. Cara menyimpannya diajarkan di koran: dibungkus selimut wol agar tidak mencair. Saat itu, minuman dingin adalah sajian mewah yang hanya bisa dinikmati keluarga Belanda di kawasan Meester (Jatinegara) dan Weltevreden (Sawah Besar), biasanya sebagai pelengkap minum bir.

Roselie en Co menjual es tersebut dengan harga 10 sen per 500 gram. Pengusaha lain, David Gilet, bahkan menawarkan jasa penyediaan air es untuk pesta seharga 15 gulden. Indonesia terus impor es dari Amerika sampai akhirnya berhenti pada tahun 1870, karena sudah berdiri pabrik es pertama di Batavia (sekarang Jakarta) yang dipelopori oleh Kwa Wan Hong. Produksinya lalu meluas ke Semarang pada 1895.

Sejak awal abad ke-20, es batu bukan lagi barang mewah. Semua orang bisa menikmatinya, dan hari ini kita bahkan bisa bikin sendiri di freezer atau pakai mesin ice maker di cafe. Dari yang harus diimpor pakai kapal dari Boston dan dibungkus selimut wol, sekarang jadi bahan baku wajib di setiap bisnis F&B. Es batu adalah contoh nyata bagaimana teknologi mengubah barang mewah jadi komoditas sehari-hari. #4/22

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *