
Beda sama sate Madura yang umurnya ratusan tahun, Sate Taichan itu anak baru. Lahirnya sekitar 2012-2014 di kawasan Senayan, Jakarta. Ada banyak versi, tapi intinya sama, ada sepasang muda-mudi, pria dari Jepang dan pacarnya orang Indonesia asli Indonesia, yang membeli sate di warung Pak Amir, penjual sate Madura di Senayan. Si pria Jepang ini gak suka bumbu kacang kental manis khas Madura.
Dia protes, minta satenya dibakar polosan aja, cuma garam dan perasan jeruk nipis. Setelah matang, dia makan pakai sambal rawit super pedas. Pas ditanya penjualnya “ini sate apa namanya?”, dia jawab spontan “Taichan!” katanya itu nama panggilannya. Dari situ Pak Amir iseng nulis di gerobaknya “Sate Taichan”. Eh, malah viral. Tahun 2016 meledak di Senayan dan Tebet, antriannya bisa sejam.

Kenapa viral?
- Anti-mainstream: Di saat semua sate pakai bumbu kacang/kecap manis, dia datang polosan putih pucat, gak pakai bumbu.
- Pedasnya jujur: Sambalnya bukan sambal kacang, tapi sambal rawit rebus, bawang, asam segar, dan pedasnya nampol.
- Gen Z banget: Minimalis, cepat, gak ribet, cocok buat nongkrong malem.
Sekarang ada dua kubu: Taichan Original Senayan (sate ayam putih polos, sambal rawit, dan jeruk nipis) dan Taichan Goreng/Mozzarella (versi modern yang digoreng dan pakai keju).

